Desa Pakapasan adalah bagian dari wilayah Kabupaten Kuningan merupakan salah satu produk dari perjalan waktu, memiliki keunikan sebagai jati dirinya. Desa Pakapasan sekarang adalah hasil dari perjalanan panjang dari berbagai peristiwa di masa lalu yang mengandung berbagai semangat dan dinamika. Dengan mengenal sejarahnya, maka kita akan mampu memberikan pemahaman dan aspirasi secara tepat terhadap Desa Pakapasan . Sejarah adanya Desa Pakapasan tidak ada bukti autentik atau tertulis yang lengkap, namun kami berhasil mengumpulkan data dari dokumen-dokumen yang masih tersisa serta hasil dari penelusuran dan wawancara dengan beberapa Tokoh Desa dan Sesepuh, dan versi yang kami dapat yaitu:
Alkisah pada zaman dahulu kala, kurang lebih pada tahun 1817 beberapa orang yang berasal dari Desa Rambatan bernama: Buyut Jasidin, Buyut Cakra dan Buyut Sacawilastra datang ke daerah Leuwi Bilik yang bermaksud untuk mencari tempat tinggal dan tempat yang cocok untuk di tanami huma.
Setelah mereka menempati daerah tersebut mereka beranggapan bahwa Leuwi Bilik sangat cocok untuk dijadikan tempat pemukiman maupun untuk menanam huma sebagai mata pencahariannya, tempat tersebut selain ditanami huma juga cocok untuk ditanami pohon kapas, makin lama areal penanaman kapas diperluas sehingga akhirnya sebagian besar daerah tersebut penuh dengan pohon kapas yang selanjutnya sebagai peringatan anak cucunya maka mereka menamakan kampung dengan Pakapasan.
Setelah mereka sepakat menamakan kampung Cikembang tersebut makin lama makin bertambah penduduk dan akhirnya menjadi sebuah desa dengan nama Desa Pakapasan s/d tahun 1924, dikepalai oleh 4 orang Kepala Desa dengan urutan nama sebagai berikut:
- Kuwu Jalil,
- Kuwu Sukunah,
- Kuwu Pandeg,
- Kuwu Rumanta.
Pada tahun 1924 direndomkan ke Desa Hantara sehingga Desa Pakapasan hanya merupakan Cantilan dan Desa Hantara dengan urutan Kepala Desa Hantara sebagai berikut:
- Kuwu Suti (tahun 1924-1924)
- Kuwu Lomrah (tahun 1924-1935)
- Kuwu Sastrawinata (tahun 1935-1952)
Diwaktu Kepala Desa dipegang oleh Bapak Sastrawinata masyarakat Desa Pakapasan mengusulkan kembali untuk memisashkan diri dan akhirnya pada Tanggal 10 Oktober 1945 disetujui untuk menjadi desa kembali dengan urutan Kepala Desa sebagai berikut:
- Kuwu Sastrawinata (tahun 1945-1967)
- Kuwu Winarta (tahun 1967-1978)
- Kuwu Eka Usman Hadiwijaya (tahun 1978-1982).
Kemudian kiranya perlu dikemukakan bahwa Kampung Pakapasan pada tahun 1980. Hal tersebut karena penduduk yang makin lama makin bertambah dodorong pula dengan jangkauan jarak ke desa ± 4 Km, namun usaha pertama menemui kegagalan.
Pada tahun 1982 Pemerintah Orde Baru mendirikan Perwakilan Kecamatan Ciniru/Kemantren Hantara.
Berkat pendekatan serta pemberian motivasi dari pemerintah yang dalam hal ini diwakili oleh Tingkat Kemantren Hantara, maka pada tanggal 28 September 1982 diadakan musyawarah Pemekaran Desa yang dipimpin langsung oleh MPP Kemantren Hantara sebagai Komisi yang mewakili Pemerintah dan selanjutnya alhamdulillah dalam jangka 2 bulan sejak diadakan musyawarah termaksud tepatnya Tanggal 11 Nopember 1982 Kampung Pakapasan Hilir resmi menjadi Desa Persiapan dengan nama:
1. Desa Persiapan Pakapasan Hilir (Desa Pemekaran)
2. Desa Pakapasan Girang (Desa Induk).
Karena kapas merupakan tanaman keramat maka di dalam lambang desa persiapan Pakapasan Hilir memakai gambar pohon kapas dengan uraian sebagai berikut:
Sebelas lekukan pada bunga kapas, sebelas bagian pada kelopak tangkai bunga dan delapan puluh dua bagian pada urat daun kapas dikeseluruhannya mempunyai arti bahwa Desa Pakapasan oleh pemerintah Orde baru pada Tanggal Sebelas Bulan September Tahun Seribu Sembilan Ratus Delapan Puluh Dua.
Desa Pakapasan dari tahum 1982 terjadi pemekaran dengan nama Desa Pakapasan Girang induk dan Desa Pakapasan Hilir pemekaran dari perjalanan tersebut terjadi beberapa kepemimpinan.
